bismillah

Sabtu, 11 Desember 2010

Buku Adalah Gudang Ilmu


Buku adalah gudangnya ilmu. Dengan membaca buku berarti kita membuka jendela dunia ilmu. Dengan buku kita bisa melihat dan mempelajari sesuatu yang baru atau hal-hal  yang berbeda dari apa yang kita pikirkan saat ini, atau suatu pendalaman atas apa yang tengah kita pikirkan atau pelajari. Dengan  membaca sebuah buku berarti kita sedang membuka cakrawala. Saat kita membaca buku kita akan berusaha memahami suatu sudut pandang penulis buku tersebut sehingga wawasan kita akan bertambah.
Dalam bulan Mei terdapat sebuah hari besar yaitu hari buku nasional yang diperingati setiap tanggal 21 Mei dalam setiap tahunnya. Namun buku yang selama ini dikenal sebagai gudangnya ilmu semakin hari semakin mulai ditinggalkan oleh anak-anak, remaja maupun orang dewasa sebagai. Anak-anak lebih cenderung senang bermain games dan  menonton TV.  Kecanggihan tekhnologi dewasa ini seakan me-ninabobo-kan anak-anak kita dan orang dewasa. Semenjak mereka bangun tidur tanpa disadari mereka terlena dengan suguhan acara-acara tv yang tiada habisnya yang mereka nikmati diwaktu senggang, jika bosan tak jarang akan berpindah dengan games yang sekarang sangat mudah didapat, mulai dari games console hingga games online maupun games PC yang dapat dengan mudah dimainkan melalui komputer. Selain itu hal yang lain yang menyebabkan kurangnya minat baca masyarakat adalah karena faktor ekonomi karena harga buku yang sulit dijangkau dan juga faktor pendidikan yang mana masyarakat memang tidak merasa mempunyai kebutuhan akan membaca. Tentunya fenomena ini sangat menghawatirkan, bisa dibayangkan jika generasi penerus kita dimasa depan akan menjadi generasi yang lebih senang dengan hal-hal bersifat hiburan dan kesenangan ketimbang hal-hal yang bersifat keilmuan dan pengetahuan, sehingga akan timbul pertanyaan akankah dikemudian hari generasi penerus kita dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini ?   
Dalam Alqur’an Allah SWT memerintahkan  kita untuk membaca. Perintah ini memberikan motivasi untuk kita agar meningkatkan minat baca. Manfaat yang besar jika kita membiasakan untuk  membaca yaitu mendapatkan pemahaman,wawasan dan ilmu pengetahuan.
Tokoh-tokoh generasi awal Islam sangat memahami akan pentingnya membaca sehingga budaya membaca ini begitu melekat pada kehidupan mereka dan menjadikan membaca dan menulis benar-benar sebagai kegiatan yang memperkaya akal dan jiwa. Buku menjadi suplemen yang bergizi yang paling berarti bagi mereka. Beberapa contoh dari kecintaan mereka terhadap buku seperti ; Sahib Ibnu Abbad menolak menjadi pejabat penting di Samarkand hanya karena akan kerepotan nantinya karena harus membawa serta pindah buku-bukunya yang diperkirakan diperlukan 400 ekor unta. Buku sangat berharga bagi Imam Al-Ghazali, ketika ia dirampok, beliau mengatakan kepada perampok, ”Silahkan kalian ambil semua hartaku termasuk uang yang aku bawa tapi jangan buku itu. Demi buku itu aku meninggalkan tanah kelahiranku.” Imam An-Nawawi rumahnya penuh sesak buku atau tumpukan kitab sehingga ketika ada tamu ia menumpuk kitab-kitabnya sehingga hanya sedikit ruang yang tersisa untuk duduk jika ada tamu datang. Bahkan Imam Ibnu Katsir akibat rutinitasnya dalam membaca dan menulis pada malam hari sehingga beliau mengalami kebutaan. Ibnu Sina saat usianya baru 18 tahun, namun keahliannya dalam dunia kedokteran telah mendapat reputasi yang baik. Suatu ketika beliau diundang untuk mengobati pembesar Samanid yaitu Nuh bin Mansur sehingga dapat disembuhkan, beliau bertanya kepada Ibnu Sina, ”Hadiah besar apa yang paling anda inginkan?” jawab Ibnu Sina, ” Saya tidak meminta yang lainnya, kecuali izinkan saya belajar di perpustakaan pribadi anda yang sangat besar jumlah koleksi bukunya.  Ibnu Qayyim Al-Jauzi pernah menuturkan, ”Selama menuntut ilmu aku telah membaca buku sebanyak dua puluh ribu jilid. Dengan buku aku dapat mengetahui sejarah para ulama salaf, cita-cita mereka yang tinggi, hafalan mereka luar biasa, ketekunan ibadah mereka, dan ilmu-ilmu mereka yang menakjubkan. Semua itu jelas tidak mungkin diketahui oleh orang yang malas membaca.”  Terdapat cerita menarik dari sejarah perang salib, orang Eropa pada awalnya menyebut orang Muslim sebagai kaum Barbarian, tetapi akibat kontak yang intensif dari perang salib, lambat laun mereka menyadari bahwa yang barbar sesungguhnya adalah mereka. Jika ditilik dari tingginya peradaban budaya dan ilmu kaum muslimin saat itu.
Budaya membaca juga merupakan salah satu kunci keberhasilan bangsa Jepang untuk bangkit dari zaman feodal yang terisolasi. Bukan suatu pemandangan yang mengagetkan jika kita datang ke Jepang dan menaiki kereta listrik, sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa pasti sedang membaca buku atau koran. Baik sambil duduk  atau berdiri, banyak diantara mereka yang memanfaatkan waktu luang dalam perjalanan untuk membaca. Budaya membaca ini banyak dimanfaatkan  penerbit untuk mulai membuat komik untuk materi-materi kurikulum sekolah. Pelajaran sekolah disajikan dengan semenarik mungkin, sehingga membuat minat baca masyarakat semakin tinggi.
Pada mulanya sebelum buku ditemukan manusia telah memiliki cara untuk menuliskan sesuatu, pada masa lalu manusia lazimnya menuliskan sesuatu pada batu, papan, daun ataupun kulit binatang. Pada masa kini buku tidak hanya bisa dibaca melalui lembaran-lembaran kertas tetapi buku pada masa kini telah bertransformasi kedalam tampilan elektronik sehingga lebih mudah dibawa serta lebih ekonomis atau yang lazim disebut ebook.
Untuk itu dengan segala kemudahan dan tekhnologi yang ada dan melalui mementum hari buku yang diperingati setiap tanggal 21 Mei ini, marilah kita bangkit dan menciptakan budaya membaca di negeri ini sehingga akan tertular pada anak-anak kita kelak yang hasilnya akan menciptakan generasi penerus yang berintelektual, berwawasan tinggi serta berintelegensi tinggi sehingga mampu bersaing dan menjadi pemenang dalam kompetisi dunia. (Boy)